idaraya

Begini Penjelasan Larangan Perayaan Valentine di Semarang

Begini Penjelasan Larangan Perayaan Valentine di Semarang

Semarang, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin, menegaskan larangan perayaan Hari Valentine oleh pelajar tak bersifat kaku.  Larangan itu cuma berlaku buat kegiatan negatif. Dinas Pendidikan mengijinkan perayaan Valentine Day dengan kegiatan yg positif.

“Jika kegiatan dalam rangka Valentine Day sifatnya positif, misalnya bakti sosial ya, tentu tak ada larangan. Sekali pun itu diselenggarakan di lingkungan sekolah,” kata Bunyamin di Semarang, Senin (13/2/2017).

Baca Juga

Panduan Buat Hiasan Valentine Bersama Anak 6 Trik Dapat Uang Tambahan Saat Hari Valentine Tiba Manjakan Keluarga di 5 Destinasi Wisata Dubai Saat Valentine

Sebelumnya dinas mengeluarkan Surat Edaran (SE) tertanggal 10 Februari dengan nomor 003/816 tentang larangan perayaan Hari Valentine. Namun edaran itu justru mengejutkan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi karena belum ada koordinasi.

Bunyamin menyebutkan penerbitan Surat Edaran (SE) tertanggal 10 Februari 2017 dengan nomor 003/816 itu, dimaksudkan bagi menghindari keterlibatan siswa didik baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah pada hal-hal yg bertentangan dengan agama dan budaya.

“Kalau perayaannya diadakan dengan melanggar norma budaya dan agama ya jelas kalian larang,” katanya. 

Menurutnya, pelarangan itu buat membangun karakter peserta didik yg berakhlak mulia dan terhindar dari kegiatan yg bertentangan dengan norma agama, sosial, dan budaya Indonesia. Edaran yg ditujukan kepada seluruh Kepala Sekolah SMP ini agar meneruskan ke orang tua dan meminta mengawasi putra-putrinya.

Menanggapi hal ini, Witono, salah seorang wali murid menyebutkan bahwa itu adalah kebijakan aneh. Untuk hal negatif, tanpa dilarang sekalipun, tentu penyelenggaranya mulai sembunyi-sembunyi. 

Dari yang berasal usul namanya, Gereja Katolik mengakui ada tiga santo atau orang suci bernama Valentine atau Valentinus. "Dan ketiganya adalah martir," demikian seperti dikutip dari situs Guardian, Jumat 13 Februari 2015. Ketiga pria dari masa 200-an Masehi tersebut tewas secara mengenaskan.



Salah sesuatu kisah menyebut, alkisah Kaisar Romawi Claudius II melarang para tentara muda menikah, agar mereka tidak 'melempem' di medan tempur. Namun,"Uskup Valentine melanggar perintah itu dan menikahkan salah sesuatu pasangan secara diam-diam. Ia dieksekusi mati ketika sang penguasa mengetahui pernikahan rahasia itu." 



Saat ia dipenjara, pria yang berasal Genoa itu lantas jatuh cinta dengan putri orang yg memenjarakannya. Sebelum dieksekusi secara sadis, ia membuat surat cinta pada sang kekasih. Yang ditutup dengan kata, 'Dari Valentine-mu'. 



Valentine yg yang lain adalah seorang pemuka agama di Kekaisaran Romawi yg menolong orang-orang Kristen yg dianiaya pada masa pemerintahan Claudius II. Saat dipenjara, ia mengembalikan penglihatan seorang gadis yg buta -- yg kemudian jatuh cinta padanya. Valentine ini dieksekusi penggal pada 14 Februari. 



Valentine ketiga adalah uskup yg saleh dari Terni, yg juga disiksa dan diekselusi selama pemerintahan Claudius II, juga tanggal 14 Februari -- di tahun yg berbeda.

Lepas dari legenda, keterkaitan Santo Valentine dan cinta baru muncul lama kemudian. Dalam puisi Geoffrey Chaucer, penyair Inggris dan penulis buku terkenal, 'The Canterbury Tales'.  

Menurut Andy Kelly, seorang ahli bahasa Inggris  dari University of California, Los Angeles, yg menulis buku 'Chaucer dan Cult of St Valentine', 

Chaucer, menulis sebuah puisi berjudulParliament of Fowls (1382), buat merayakan pertunangan Raja Richard II.

Dalam puisi itu, Hari Valentine dirayakan pada 3 Mei, bukan 14 Februari . "Itu adalah hari di mana seluruh burung memilih pasangannya dalam setahun," kata Kelly. "Tak lama setelahnya, dalam sesuatu generasi, orang-orang mengambil ide bagi merayakan Valentine sebagai hari kasih sayang."



Valentine yg menjadi referensi Chaucer mungkin adalah Santo Valentine dari Genoa yg meninggal pada 3 Mei. Tetapi orang-orang pada ketika itu tak begitu akrab dengan sosok itu. Mereka lebih akrab dengan kisah Valentine dari Roma dan Terni yg dieksekusi pada 14 Februari -- yg lantas dikaitkan dengan cinta.



Kisah Hari Valentine juga dapat ditelusuri dari era Romawi Kuno, terkait kepercayaan paganisme. Tiap tanggal 13-15 Februari, warga Romawi kuno merayakan Lupercalia. Upacara dimulai dengan pengorbanan beberapa ekor kambing jantan dan seekor anjing.



Kemudian, pria setengah telanjang berlarian di jalanan, mencambuk para gadis muda dengan tali yg terbuat dari kulit kambing yg baru dikorbankan. Walaupun mungkin terdengar seperti semacam ritual sesat sadomasokis, itu dikerjakan orang-orang Romawi lakukan sampai tahun 496 Masehi.

Sebagai ritus pemurnian dan kesuburan.

"Upacara diyakini dapat membuat perempuan lebih subur," kata  Noel Lenski, sejawaran dari University of Colorado, Boulder, seperti dimuat USA Today.



Puncak Lupercalia pada 15 Februari, di kaki Bukit Palatine, di samping gua -- yg diyakini menjadi tempat serigala betina menyusui Romulus and Remus -- pelopor kota Roma dalam mitologi Romawi.
Pada tahun 496, Paus Gelasius I melarang Lupercalia dan menyatakan 14 Februari sebagai Hari Santo Valentine.



Source : liputan6.com

Terimakasih sudah membaca: Begini Penjelasan Larangan Perayaan Valentine di Semarang

idaraya

Share this

Berkomentarlah yang baik sopan dan relevan,jangan menyimpang dari topik !!!

list emo
Terimakasih atas komentar Anda di " Begini Penjelasan Larangan Perayaan Valentine di Semarang "