Washington, DC -, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump 'meralat' pernyataannya soal NATO. Trump menyebut, Pakta Pertahanan Atlantik Utara itu tak lagi usang.
Pernyataan tersebut disampaikannya bertepatan dengan kunjungan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg ke Gedung Putih. Dalam kesempatan yg sama Trump mengatakan, ancaman terorisme sudah menjadi poin utama aliansi negaranya dengan organisasi keamanan tersebut.
Trump meminta agar NATO berbuat lebih banyak bagi menolong Irak dan Afghanistan.
"Sekjen dan aku memiliki diskusi yg produktif tentang apa lagi yg mulai dikerjakan NATO bagi memerangi terorisme. Saya mengeluh soal itu sejak lama dan mereka sudah berubah, sekarang mereka memerangi terorisme," ujar Trump seperti dilansir BBC, Kamis, (3/4/2017).
"Sebelumnya aku katakan NATO telah usang. Tapi kini mereka tak lagi usang," imbuhnya.
Meski tampil lebih lunak, Trump tetap menyerukan agar negara-negara anggota NATO berkontribusi lebih banyak dana buat organisasi itu.
"Jika negara-negara membayar dengan adil dan tak cuma mengandalkan Amerika Serikat, kalian seluruh mulai jauh lebih aman," kata presiden ke-45 AS tersebut.
Sementara itu, Stoltenberg mengucapkan terima kasih kepada Trump atas meeting yg disebutnya sangat baik dan sangat produktif.
Awal minggu ini, NATO menyambut Montenegro sebagai anggota ke-29 mereka.
Sebelum meeting antara Trump dan Stoltenberg berlangsung, presiden AS itu dua kali mempertanyakan tujuan NATO. Ia juga mengeluhkan iuran keanggotaan yg dibayarkan AS sangat besar seandainya dibandingkan dengan negara-negara lain.
Perbedaan sikap atas NATO ini bukan satu-satunya kejutan yg dihadirkan Trump di sepanjang Rabu 12 April waktu Washington. Dalam sebuah wawancara dengan the Wall Street Journal, ia mengatakan tak mulai lagi melabeli China sebagai manipulator mata uang.
Trump dalam berbagai kesempatan sebelumnya menuding China sudah 'memperkosa' Amerika Serikat dengan kebijakan ekonomi yg mengerikan. Pernyataan tersebut dipicu defisit perdagangan antara AS dan Tiongkok.
Ayah lima anak itu menyebut China sudah memanipulasi nilai mata uang bagi membuat ekspor mereka lebih kompetitif di pasar global. Tak dijelaskan apa yg menyebabkan perubahan sikap Trump.
Pertemuan Trump dan Stoltenberg di Gedung Putih berlangsung dua jam setelah Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin selama kunjungannya ke Moskow.
"Semuanya berjalan cukup baik. Mungkin lebih baik daripada yg telah diantisipasi," ungkap Trump mengomentari meeting Tillerson dan Putin.
"Saat ini kita sedang tak akur sama sekali dengan Rusia. Kita mungkin berada di titik rendah dalam hubungan dengan Rusia," jelas mantan pebisnis itu.
Hubungan AS-Rusia tidak terlepas dari situasi di Suriah. Moskow membela rezim Bashar al-Assad atas tudingan AS yg menyebut, penguasa Suriah itu melancarkan serangan kimia di Khan Sheikhun, Idlib.
Source : liputan6.com
Terimakasih sudah membaca: Tegang dengan Rusia, Trump Rangkul NATO

Berkomentarlah yang baik sopan dan relevan,jangan menyimpang dari topik !!!